Saat cinta mengubah semuanya…
“Gue sayang sama lo, Ra. Lo mau nggak jadi pacar gue?”
Varra terpaku. Jantungnya berdegup kencang, ia tidak menyangka. Niki, cowok yang ia taksir selama ini tiba-tiba menyatakan cinta. Lama dipandanginya cowok tampan yang ada di sampingnya dengan pandangan tidak percaya.
“Ra? Kenapa bengong? Lo gak mau ya?” tanya Niki dengan tatapan sedih.
“Hah? Eh? Mmm… nggak kok Nik. Gue gak nyangka aja cowok yang selama ini gue taksir tiba-tiba nyatain cinta. Gue lagi mimpi kali ya? Hahahaha,” jawab Varra terbata.
“Hahahaha. Kenapa nggak nyangka? Lo cantik, lo baik, cowok mana sih yang nggak suka sama lo? Hmm… jadi jawabannya apa?” Tanya Niki penuh harap.
Lalu Varra tersenyum dan menganggukkan kepalanya. “Iya, gue mau jadi pacar lo.”
“Serius, Ra?? Horeee! Aku sayang banget sama kamu, Ra. Aku janji nggak akan ngekhianatin kamu, gak akan kecewain kamu. Aku bakal terus sayang sama kamu sampe kapanpun, Ra!” Katanya dengan semangat seraya memeluk Varra erat.
“Iya, Sayang. Aku percaya.” Varra membalas pelukannya.
Libur sekolah masih 3 hari lagi. Varra sudah tidak sabar ingin menceritakan ini kepada sahabat terdekatnya, Randy. Varra dan Niki sama-sama masih bersekolah kelas 3 SMA, tapi berbeda sekolah. Awalnya Varra bertemu dengan Niki di toko buku. Mereka ingin membeli buku yang sama, sedangkan stoknya hanya tinggal satu-satunya.
“Eh maaf, lo mau beli buku yang ini ya?” tanya Varra waktu itu.
“Eh, iya nih. Lo juga milih yang ini ya? Kalo gitu buat lo aja deh nih.” Niki mengalah dan menyodorkan buku itu pada Varra.
“Nggak, nggak usah. Gue kan bisa milih buku yang lain. Udah lo ambil aja itu.”
“Loh, nngak bisa gitu dong. Gue kan cowok, masak nggak mau ngalah sama cewek? Udah nih buat lo aja. Please… Biar gue ngerasa jadi cowok sejati gitu. Hehehe,” Niki nyengir dan terkekeh. Akhirnya Varra mengambil buku itu dengan ragu. Lalu tersenyum.
“Oh iya, kenalin nama gue Niki. Nama lo siapa?” lanjut Niki seraya mengulurkan tangan.
“Gue Varra,” jawab Varra dan menjabat tangan Niki.
“Oke. Varra. Nama yang cantik, secantik orangnya. Temenin gue cari buku dulu yuk?”
Varra tersenyum tersipu lalu mengangguk.
Begitulah. Selanjutnya mereka saling bertukar alamat, bertukar nomor ponsel, hingga akhirnya saat ini mereka saling mencintai.
Cinta sejati adalah ketika dia mencintai orang lain, dan kamu masih mampu tersenyum, sambil berkata,”Aku turut bahagia untukmu.”
Hari ini hari pertama masuk sekolah. Varra masuk ke kelas baru dengan wajah sumringah. Ia sudah tidak sabar menunggu bel istirahat berbunyi. Ingin sekali dia menceritakan kebahagiaannya ini pada Randy. Tidak lama kemudian bel istirahat pun berbunyi. Tadinya ia mau langsung ke kelas Randy, tapi lambungnya sudah berteriak-teriak minta dikasihani, akhirnya ia bergegas ke kantin dan membeli makanan.
“Hey, Ra!” Randy melambaikan tangan memanggil Varra yang sedang serius mengisi perut.
Varra celingukan mencari asal suara yang memanggilnya itu. Lalu ia melihat sosok Randy di belakangnya, “Hey, Ran! Sini.”
Lalu Randy segera menghampiri Varra,”Gimana kabar lo, Ra? Gila ya, selama tiga minggu liburan kita gak pernah ketemu. Gue jadi kangen deh sama lo. Hahaha.”
“Dih, bisa aja deh lo. Kabar gue baik kok. Gue liat lo kurusan deh. Kenapa lo? Tekanan batin? Hehehe.”
“Gara-gara nggak pernah ketemu lo nih, gue mikirin lo mulu, gue jarang makan, jarang minum, jarang tidur, jarang mandi.”
“Idiiihh, jorok banget deh lo. Apa hubungannya nggak ada gue sama jarang mandi?”
“Iyalah, lo kan yang paling bawel nyuruh gue mandi, udah kayak nyokap gue aja. Hahahaha. Ngomong-ngomong, laper nih gue, Ra. Suapin dong, hehe.”
“Dih, manja banget deh lo. Ogah ah nyuapin kambing! Hahahaha. Oia, Ran. Gue lagi seneng deh. Gue pengen cerita sama lo.
“Oh ya? Cie seneng kenapa nih? Seneng ketemu gue ya?”
“Idih pede banget sih lo.”
KRIIIIIINNNNNNGGGGG!!
“Woy, Ran. Pacaran aje lo. Udah masuk tuh. Cabut yuk!” Arie dan dua orang temannya mengajak Randy ke kelas.
“Ye, ini sobat gue, coy.” kata Randy dan berbalik menatap Varra,”Gue balik ke kelas dulu ya, Ra. Sekarang pelajarannya Pak Hanaf. Gue takut kena pentungan besinya itu. Ceritanya nanti aja ya pas pulang sekolah. Bye.”
Akhirnya bel pulang sekolah berbunyi juga. Seperti biasa Randy mengantar Varra pulang dengan motornya, karena rumahnya sejalan dengan rumah Varra.
“Oh iya, tadi mau cerita apa, Ra?” kata Randy sambil memberikan helm pada Varra.
“Hmm… gue baru jadian loh, Ran! Seneeng banget deh,” jawab Varra dengan wajah berseri.
Refleks Randy menatap Varra dengan tatapan kaget campur kecewa. Tapi ia segera sadar dan tersenyum, walaupun terlihat terpaksa,”Oh, selamet ya, Ra.”
“Ih kok gitu doang sih tanggepannya? Lo gak seneng yah liat gue seneng?”
“Hah? Nggak kok, gue seneng kok,” jawabnya tanpa melihat ke arah Varra dan menyembunyikan wajah kecewanya di balik helm. Gue kenapa ya? Kenapa perasaan gue jadi aneh pas denger Varra punya cowok? Toh dia Cuma sahabat gue, gak lebih.
Tak lama kemudian Niki datang dengan sedannya. “Hai, sayang,” kata Niki setelah turun dari mobil.
“Hei, tumben jemput. Kamu sekolah bawa mobil?” tanya Varra heran.
“Iya dong. Hari gini gak jaman bawa motor, ya gak? Haha. Ini siapa, Yang?”
“Oh iya, kenalin, ini sahabat aku.”
Randy mengulurkan tangan dengan muka kecut dan sedikit senyum yang dipaksakan,”Randy.”
Niki menjabat tangannya,”Oh, Niki.” Lalu ia dan Varra langsung pergi meninggalkan Randy sendirian di pelataran parkir.
“Sial! Sial! Baru punya sedan aja udah sombong lo! Liat nanti gue beli pesawat! Shit!” Randy merasa emosinya sudah memuncak di atas ubun-ubun.
Sesampainya di rumah, Randy langsung merebahkan tubuhnya di ranjang. Huh! Varra punya cowok? Mau-maunya dia punya cowok sombong begitu. Pasti sepanjang hari perhatiannya bakal kesita sama tuh cowok belagu. Pasti nanti gue cuma dianggap batu. Yah, bisa mati kesepian nih gue kalo nggak ada lagi canda tawanya Varra yang lucu, omelannya yang gemesin, omongannya yang kayak kereta yang bikin rame. Ah, tapi emang gue siapanya? Gue cuma sahabatnya, gue gak berhak ngatur hidup dia. Lagipula kenapa gue jadi begini? Sahabat gue yang lain masih banyak. Kenapa Cuma gara-gara Varra punya cowok aja gue jadi berlebihan begini sih? Ngapain juga gue pusing sendiri mikirin begituan, gak ada gunanya juga. Mendingan gue tidur.
Terkadang cinta buta membuat seseorang tidak melihat yang ada di depannya, tapi selalu terbayang yang jauh di sana…
Beberapa hari kemudian…
Ternyata apa yang ditakutkan Randy jadi kenyataan. Varra berubah, setiap hari topik pembicaraan mereka di sekolah hanya tentang Niki, Niki, dan Niki. Varra pun sekarang tidak pernah lagi pulang bersama Randy. Bahkan di sekolahpun Varra sudah jarang sekali mengobrol dengannya. Varra selalu datang pada Randy jika sedang terlibat masalah dengan Niki.
Suatu ketika saat Varra sedang ada masalah dengan Niki, ia datang ke rumah Randy. Ia menceritakan semuanya sampai menangis. Lalu Randy merangkulnya dan membiarkan Varra menangis di bahunya. “Ceup ceup. Kemana nih sobat gue yang centil, yang bawel, yang ceria? Kok sekarang jadi sering mewek sih? Jadi cengeng begini? Hey, Tuan Putri, nanti mukanya kayak gini loh,” Randy berpura-pura seperti makhluk aneh yang sangat jelek.
“Iiiihh! Randy! Gue lagi sedih nih. Jahat banget sih lo!”
“Aduh, gimana yah? Gue nggak punya balon nih buat nenek sihir disebelah gue,” ledek Randy dengan wajah kocak.
“Eh! Kurang ajar lo ya!” omelnya sambil memukul lengan Randy.
“Hayoloh, nanti mukanya kayak nenek sihir. Hiiyy… sekarang aja udah mulai jelek tuh. Idiihhh… jelek ih. Kalo lo jadi nenek sihir, takut ah gue temenan sama lo. Hahahaha…”
“Randy!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”
Randy pun segera berlari diikuti dengan Varra yang mengejarnya sambil membawa-bawa sapu ijuk. Mereka berlarian sampai keluar dari halaman rumah Randy. Randy tertawa terbahak-bahak, sedangkan Varra mengomel sambil teriak-teriak.
‘Gak apa-apa deh, Ra, sekalipun gue cuma jadi pelampiasan lo doang, asalkan gue bisa bikin lo senyum. Gue gak mau ngeliat lo sedih, Ra. Gue sayang sama lo…’ batin Randy dalam hati.
Besoknya, Randy dan Varra berjalan beriringan dari luar kelas menuju ke depan gerbang, kebetulan motornya diparkir dekat pintu gerbang.
“Gimana sama cowok lo? Udah baikan?”
Beberapa detik kemudian mobil Niki melintas di depan mereka. Varra langsung pamit pada Randy tanpa menggubris pertanyaannya.
‘Yah, tanpa lo kasih tau gue udah tau jawabannya kok, Ra. Mungkin selamanya gue akan terus ada dibelakang lo, dan lo gak akan sadar kehadiran gue.’
Tidak terasa sebulan pun berlalu. Besok adalah hari ulang tahun Varra yang ketujuh belas tahun. Hari ini dia memberikan undangan untuk teman-temannya agar datang ke pestanya besok.
“Cie, yang udah 17 taun. Kata orang sih switsepentin gituh.” ledek Randy saat Varra menyodorkan undangan.
“Haha, bisa aja lo. Udah ya, gue mau bagiin undangan ke yang laen dulu.”
“Oke, siapin makanan yang enak ya, Ra! Yang banyak!”
“Siip!” katanya sambil mengacungkan jempol dan berlalu.
Malamnya, Varra sibuk sekali mematut-matut diri di depan cermin kamarnya, berputar-putar berulang kali memandangi dirinya. Varra yang memang sudah cantik menjadi semakin cantik malam ini dengan riasan make up tipis dan gaun berwarna soft pink. “Malam ini aku akan jadi ratu semalam,” katanya sambil mengembangkan senyum.
Acara sudah akan dimulai, teman-teman Varra sudah berdatangan. Varra dan Randy sedang mengobrol di teras depan. Varra terlihat gelisah, berkali-kali ia melihat ke arah gerbang.
“Kenapa sih, Ra? Kok dari tadi gelisah gitu?”
“Ini, si Niki kemana sih, dari tadi gak dateng-dateng. Tinggal dia doang nih.”
“Oh.”
Tiba-tiba di dalam ada ribut-ribut. Ternyata foto Varra jatuh dan bingkainya pecah. Varra hanya melihat sekilas, lalu kembali menatap gerbang. Sekarang Randy yang merasa gelisah. Tangannya keringat dingin. Duduknya tidak tenang.
“Lo kenapa, Ran? Sakit?”
“Gak kok, Ra. Gak tau, perasaan gue jadi gak enak gini.”
“Ohh. Haha, gak usah nervous gitu kali deket gue. Hehe.”
Tidak lama kemudian Niki datang. Mobilnya diparkir di seberang rumah Varra. Wajah Varra langsung berseri-seri. Ia langsung berlari menghampiri Niki tanpa melihat kanan kiri jalan, ia lupa kalau rumahnya berada di pinggir jalan raya. Ia pun sedang menggunakan high hills. Saat berlari keluar gerbang, Varra terjatuh. Dan dari sebelah kanan ada mobil yang sedang melaju kencang dan…
“AWAS, RA!!!”
CIIIIIIIIIIITTTTTTTTTTTTTTTT…………..
Mobil berhenti dua jengkal dari tempat Varra berada. Niki yang berada di dalam mobil langsung membuka pintu, ia ingin menghampiri Varra tapi terlambat. Varra segera bangun dari duduknya dan berlari ingin memeluk Niki. Lalu dari sebelah kiri sebuah sedan menabrak tubuhnya dengan sempurna hingga terpelanting sampai dua meter. Tubuhnya yang tergolek lemas mengeluarkan darah segar yang cukup banyak. Tangan kirinya bengkok ke arah yang tidak wajar. Niki yang melihat hal itu tepat di depannya langsung terdiam, seperti terpaku di tempatnya. Ia tidak bisa berkata apa-apa dan sulit melakukan apapun. Wajahnya pucat seperti baru saja melihat hantu. Sedangkan Randy langsung berlari kearah Varra yang tidak sadarkan diri itu. Teman-temannya terpana menyaksikan sang ‘RATU SEMALAM’ tergolek lemah tidak berdaya di tengah jalan dengan berlumuran darah.
“Nik! Buka pintu! Kita bawa ke rumah sakit! Cepet!”
Niki yang sedang terdiam melihat hal itu langsung sadar dan menuruti perintah Randy tanpa berkata apa-apa. Lalu mereka segera melesat ke rumah sakit.
Cinta sejati tidak mencari seseorang yang sempurna. Butakan mata, tulikan telinga, maka kau akan menemukan cinta sejati…
Di ruang tunggu rumah sakit. Randy terlihat gelisah, ia tidak bisa diam duduk di tempat. Sesaat ia duduk, lalu berdiri lagi dan berjalan kesana kemari. Sedangkan Niki hanya terduduk lemas sambil menunduk dan menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Tadi Randy sudah menghubungi orang tua Varra. Mereka sedang berada di luar kota, mungkin besok pagi baru bisa sampai. Randy benar-benar terlihat gelisah. Berkali-kali dia melirik ke arah jam tangannya. Sampai akhirnya dokter keluar dan Randy langsung menyambutnya dengan pertanyaan-pertanyaan.
“Gimana, Dok? Gimana temen saya? Dia gak apa-apa kan? Gimana keadaannya sekarang? Masih bisa diselamatkan kan, Dok?”
Melihat itu Niki yang sedari tadi hanya menunduk pun menoleh dan segera berdiri. Tapi dia tidak berkata apa-apa karena pertanyaan Randy yang sudah bertubi-tubi.
“Tenang, teman anda baik-baik saja. Tapi tangan kirinya harus diamputasi,” kata dokter.
Randy tercengang mendengarnya. Lebih-lebih Niki yang sedari tadi menunduk langsung mengangkat wajah terbelalak mendengar pernyataan dokter itu.
“A… amputasi…?”
Tentu saja ia terkejut. Varra, pacarnya yang mendekati sempurna itu harus kehilangan anggota tubuhnya. Bagaimana jadinya nanti? Dia harus bergandengan dengan gadis cacat? Apalagi ini? Kenapa semuanya jadi begini?
Esoknya. Operasi berjalan lancar dan sekarang Varra sudah dipindahkan ke ruang rawat inap. Matanya sembab karena ia terus menerus menangis mengingat sekarang dia tidak lebih dari seorang gadis cacat. Tidak lama kemudian Niki dan Randy masuk beriringan. Mama Varra yang sedari tadi ada di samping Varra pun permisi keluar dulu. Niki menatap Varra dengan canggung dan prihatin.
“Gimana, Ra, udah enakan?” akhirnya pertanyaan itu yang keluar dari mulut Niki.
Varra memalingkan mukanya, menghadap tembok. Ia tidak ingin melihat Niki. Ia malu. Hatinya terpukul dengan semua kejadian ini. “Tangan aku buntung! Aku cacat! Kamu pasti malu punya cewek kayak aku! Iya kan??” matanya yang berair menoleh pada Niki, menatapnya tajam sekaligus berharap.
“Maksud kamu apa sih, Ra? Emangnya aku pernah ngomong begitu? Aku sayang sama kamu, Ra. Jangan ngomong gitu ya?” kata Niki. Ia tersenyum dan menggenggam tangan Varra.
Randy yang dari tadi hanya berdiri di situ merasa seperti setan. Akhirnya ia permisi untuk keluar. Di luar pun ia hanya duduk. Merenung. Kenapa semuanya harus begini? Kenapa harus Varra yang nerima semuanya? Kenapa nggak gue aja? Ah, tapi Varra udah ada Niki. Dia pasti bisa lebih kuat dengan adanya Niki.
Beberapa hari berlalu. Tiap hari sepulang sekolah Randy rutin menjenguk Varra di rumah sakit. Tapi sudah beberapa hari ini Niki tidak pernah lagi menjenguk Varra. Kemana dia?
“Ran?”
“Kenapa, Ra? Lo mau minum? Atau laper? Atau mau pipis?”
“Bukan. Niki kemana? Kok dia nggak pernah jenguk gue lagi?” katanya lemah. Matanya mulai berkaca-kaca.
“Hm, mungkin sibuk, Ra. Gue coba hubungin ke hp-nya tapi nomernya gak aktif.”
“Mungkin dia malu ya punya cewek cacat?” air matanya mulai menetes lagi.
“Udah, Ra. Jangan mikir yang macem-macem. Tar lo gak sembuh-sembuh,” kata Randy. Ia tersenyum dan menyeka air mata Varra. “Jangan nangis lagi ya, Ra. Sekarang lo istirahat aja. Udah malem, gue belom mandi nih. Lo kok betah sih deket-deket sama gue?”
Varra hanya tersenyum.
“Atau jangan-jangan dari tadi lo mau ngusir gue ya gara-gara gue belom mandi dari siang? Aduh jadi gak enak nih gue. Gue balik dulu ya, Ra. Jaga kesehatan, jangan lupa minum obatnya, makan sama minum jangan telat. Ok!” kata Randy sambil menepuk kepala Varra dengan lembut.
“Iya, Pak Dokter bawel!”
Sebelum pergi, Randy mengecup kening Varra. Ada kehangatan menjalar ke hatinya setiap kali Randy di sampingnya. Entahlah. Randy bisa membuatnya tenang dalam hal apapun.
Dua minggu berlalu setelah Varra pulang dari rumah sakit. Ia sudah pulih kembali. Sudah sehat seperti biasa. Hanya bedanya sekarang telapak tangan kirinya sampai ke sikut sudah tidak ada. Tapi ia sudah mulai terbiasa, walaupun belum sepenuhnya menerima.
Selama lima belas hari di rumah sakit, tidak sekalipun Niki menjenguknya. Bahkan memberi kabar pun tidak. Varra benar-benar sedih dan penasaran. Kemana sebenarnya Niki? Apa yang terjadi dengannya? Tidak mungkin Niki sibuk sampai melupakannya.
Hari sudah menjelang sore. Sebentar lagi malam turun. Varra sudah benar-benar bosan berada di rumah. Padahal ia sudah sehat, tapi ia belum boleh keluar oleh Mama karena Mama masih takut terjadi apa-apa dengan Varra. Akhirnya ia diam-diam keluar rumah. Ia ingin ke rumah Niki. Akhirnya ia berhasil mengendap-endap keluar dari rumahnya. Ia berjalan kaki menuju rumah Niki. Rumahnya tidak terlalu jauh, tapi lumayan kalau ditempuh dengan berjalan kaki.
Akhirnya ia sampai di depan rumah Niki. Ia melihat ke sekeliling rumah. Betapa terkejutnya ia saat melihat Niki sedang bermesraan dengan seorang perempuan di teras rumahnya.
“Niki!” teriaknya. Matanya sudah berkaca-kaca.
Yang punya nama pun menoleh dan terbelalak melihat apa yang dilihatnya. Pacarnya yang cacat. Ya, pacarnya yang cacat ada di depan rumahnya. Kenapa dia bisa di sini? Bukannya dia di rumah sakit? Ah, iya. Ini udah sebulan lebih. Dia pasti udah sembuh. Mampus gue. Mesti gimana nih gue?
“Siapa itu, beb?” perempuan di samping Niki, yang ternyata pacar barunya, bertanya dengan wajah bingung.
“Oh, ng… itu… itu… gak tau siapa. Mungkin pengemis. Sebentar ya, Sayang.”
Lalu Niki beranjak dari duduknya dan mendekati Varra. Lalu dengan seenaknya dia melempar uang seribu rupiah ke hadapan Varra, lalu mengajak pacar barunya itu masuk ke rumah.
Varra tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Niki, seseorang yang paling ia cintai menganggapnya pengemis. Ya, pengemis cacat yang tidak punya harga diri. Oh, bukan. Harganya seribu rupiah. Ia benar-benar sudah tidak tahan lagi. Air matanya terus mengalir. Lalu ia pergi meninggalkan rumah nista itu. Ia ingin pergi. Kemana saja. Ingin meninggalkan semua kenangan itu. Ingin meninggalkan semua dukanya. Ingin meninggalkan hidup ini.
Ia terus berlari mengikuti jalan. Tidak punya arah tujuan. Sampai akhirnya ia sampai di sebuah jembatan besi yang di kiri kanannya adalah sebuah sungai besar yang aliran airnya cukup deras. Daerah itu sepi. Lalu ia menaiki pembatas jembatan yang terbuat dari besi itu. Ia duduk di atasnya.
“Tuhan itu gak adil! Gue udah kehilangan tangan gue! Sekarang gue harus kehilangan orang yang gue cinta! Gue benci hidup ini! Hidup ini kejam! Gak pernah ada keadilan di dunia ini! Gue mau mati aja!!!”
Dan tepat saat ia ingin loncat, ada yang menarik tangannya.
“Ra! Lo ngapain sih malem-malem gini ada di sini sendirian? Tau gak, gue udah khawatir! Tadi gue ke rumah lo, kata nyokap lo, lo kabur dari rumah. Lo ngapain sih??” ternyata yang menarik tangannya adalah Randy. Ia datang di saat yang tepat.
“Lo gak usah ngatur idup gue! Gue udah gak berguna di dunia ini! Gue cacat! Niki ninggalin gue! Abis itu apa lagi?? Gue udah gak tahan, Ran. Gue mau mati aja. Gue mau mati aja,” tangisnya semakin keras, tapi suaranya semakin melemah.
Randy menarik Varra ke dalam pelukannya. “Ra, setiap orang punya porsi bahagia masing-masing. Kita mesti bersyukur atas kelebihan yang kita punya, yang belum tentu orang lain milikin. Selebihnya kita harus sabar di saat kita lagi diuji dengan kesusahan. Kita gak bisa ngambil jalan pintas dengan bunuh diri, lari dari masalah. Lari dari masalah itu cuma pekerjaan seorang pengecut. Lo paham maksud gue kan, Ra?”
Varra tidak menjawab. Ia masih terisak di dada Randy. Tapi tangisnya sudah mereda. Perasaannya sudah lebih baik dibanding tadi. Entah mengapa ia merasa selalu ada kehangatan yang dialirkan oleh Randy yang bisa membuatnya tenang.
“Di dunia ini kita gak sendiri, Ra. Cuman orang-orang bodoh yang nganggep lo itu gak berguna. Masih banyak yang sayang sama lo. Jadi lo jangan ngerasa idup cuma sendirian. Gue siap jadi apapun yang lo minta, asalkan lo bisa seneng.”
Varra melonggarkan pelukan Randy dan mendongakkan kepalanya. “Ran, kenapa lo baik banget sama gue? Padahal gue gak pernah peduli sama lo. Gue cuma bisa nyusahin lo. Gue gak pernah ngebales perbuatan baik lo.”
“Karna… karna gue sayang sama lo, Ra. Gue cinta sama lo, jauh sebelum lo jadian sama Niki. Sayang dan cinta itu gak butuh balesan buat kebaikan yang udah dilakuin, Ra. Apapun bakal gue lakuin asalkan lo bahagia. Gue pengen ngeliat lo senyum terus, Ra. Gue gak mau ngeliat lo sedih. Please, Ra, ijinin gue gantiin posisi Niki di hati lo. Gue pengen selama-lamanya ada di samping lo sampe gue mati, Ra. Please…”
Varra menatap Randy. Lama. Matanya yang sembab mengeluarkan air mata lagi. Tapi ia tetap menatap Randy penuh arti.
“Kenapa, Ra? Kok lo nangis? Lo gak suka ya gue ngomong gitu? Maafin gue deh, Ra. Jangan nangis ya?” kata Randy sambil mengusap air mata di pipi Varra.
Lalu varra memeluk Randy. Lebih erat. Dan berkata setengah berbisik,”Cuma lo yang bisa ngerti gue. Cuma lo yang selalu ada di samping gue. Cuma lo yang rela jadi tong sampah waktu gue lagi susah. Cuma lo yang bisa bikin gue tenang. Jangan pernah tinggalin gue, Ran. Gue mau lo ada di samping gue terus. Lo selalu bisa ngehibur gue waktu gue sedih. Gue sayang sama lo, Ran.”
Randy merasakan hangat air mata Varra meresap ke dalam bajunya. Dan tanpa bisa ia tahan, air mata mengalir dari sudut matanya. Ya, ia menangis haru. Ia mempererat pelukannya.
“Aku gak akan ninggalin kamu. Aku sayang banget sama kamu. Jangan ngelakuin hal bodoh kayak tadi lagi ya, Ra. Aku gak tau gimana jadinya kalo kamu gak ada. Mungkin aku udah masuk rumah sakit jiwa. Aku gak mau kehilangan kamu, Ra.”
Lalu Randy menuntun Varra ke motornya dan mengantarnya pulang.
Diam-diam di balik semak yang gelap, dua orang anak muda yang sedang ronda menonton kejadian Varra dan Randy tadi. Tanpa mereka sadari sedari tadi mereka berpelukan sambil menangis.
“Hiks.. hiks.. dasar anak muda jaman sekarang. Bisa-bisanya hari gini bikin sinetron di pinggir kali. Hiks.. hiks.. sroooooooott,” kata si anak muda yang berbaju kuning sambil menarik ingusnya.
“Iya nih. Ada-ada aja dia bikin film di pinggir kali begitu.. Hiks..” kata temannya yang berbaju hitam.
Begitulah. Lebih baik dicintai tanpa alasan, karena ketika alasan dia mencintaimu itu hilang, dia akan meninggalkanmu. Cinta tidak memerlukan syarat apapun. Cinta terlahir dari hati seseorang atas dasar ketulusan dan anugrah dari Tuhan. Jagalah orang yang mencintaimu sebaik-baiknya sebelum ia pergi, dan kamu akan menyesal karenanya. See you. Good bye!
with ♥,
uwyha
Tidak ada komentar:
Posting Komentar